Trending Topik

Apakah Marketplace (Tokopedia & Shopee) Benar Marugi & PHK Karyawan Besar-Besaran??

Diposting oleh On Friday, December 02, 2022

Marketplace pelan-pelan mulai ambil untung karena berdasarkan beberapa berita akhir-akhir ini banyak start-up yang PHK besar-besaran karyawannya. Kami selaku seller & buyer di online shop sangat merasakan pesatnya perkembangan jaman terutama belanja masyarakat yang dulu banyka via offline sekarang sudah mengenal online. Kami mendapatkan omzet yang menggiurkan juga dan bahkan net bisa diatas UMR kami rasa sudah sangat cukup untuk tambahan pendapatan keluarga. Disisi lain, marketplace seperti Shopee melakukan banyak PHK karyawannya karena dinilai rugi besar, Apakah ini berhubungan dengan suntikan investor di awal-awal yang besar untuk jurus bakar-bakar uang?? kalau menurut pendapat kami "IYA". Bagaimanakah langkah Shopee kedepannya??

Kami melakukan pengamatan di akhir-akhir ini yaitu Semester II Tahun 2022, inilah beberapa strategi Shopee untuk mulai ambil untung, dimana para buyer kemungkinan besar tidak sadar:
  • Pada jam-jam tertentu atau event tertentu misalnya Jam 12.00-13.00 WIB (waktu karyawan istirahat siang) atau pada Tanggal khusus misalnya 10.00; 11.11 atau waktunya karyawan gajian maka aplikasi Shopee men-default pengiriman hanya bisa via Shopee Standard Express atau jika seller tidak memasang kurir tersebut maka default dialihkan ke Anteraja. Ini kami alami sendiri dan sempat komplain dan dijawab CS Shopee akan diteruskan ke bagian pemeliharaan. Setelah esok harinya benar, sudah beres dan fitur "UBAH KURIR" bisa dipakai. Analisa kami adalah pada saat tersebut Shopee ambil untung lewat ekspedisi dan kurir yang kerjasama besar dengan dia makanya dicarikan porsi khusus pasarnya. Dari sini buyer tidak adakan sadar, mungkin berfikir aplikasi Shopee sedang drop atau memang jaringan internet sedang bermasalah.
  • Penjualan produk digital sangat dibatasi tidak seperti dulu, bahkan di Jam 06.00 kami melihat tidak kebagian promo seperti pulsa, PLN, uang elektronik, tikel dll. Analisa kami adalah Shopee sudah mulai membatasi anggota lama dan terus menggaet anggota baru, jadi kemungkinan besar promo berlaku aktif untuk pelanggan baru dan pelanggan lama akan dapat 1x/bulan saja. Ini kami alami betul karena dahulu kami terus dapat promo tersebut bahkan isi pulsa PLN dan HP berkali-kali dalam minggu yang sama juga masih dapat promo. Dengan masuknya pelanggan baru maka Shopee bisa mencuri pelanggan dari kompetitor seperti Tokopedia dan membuat besarlah member Shopee
  • Transfer ke bank dari Shopee Pay dahulu gratis dan sekarang berbayar baik top-up maupun transfer dan ini juga diikuti oleh Tokopedia. Analisa kami adalah mungkin ini aturan dari perbankan aau OJK atau jika memang bukan maka ini adalah strategi cari untung marketplace
  • Setiap pembelian di aplikasi marketplace baik Shopee maupun Tokopedia ada biaya layanan Rp1000 padahal dahulu tidak ada. Analisa kami adalah ini juga merupakan sebuat strategi ambil untung marketplace karena baik seller maupun buyer si marketplace akan dapat cuan
Berdasarkan beberapa fakta tersebut maka kami menyimpulkan bahwa tanda tanya besar mengapa marketplace yang dinilai sangat besar, cuan malah banyak yang gulung tikar merugi. Kami sebagai buyer dan seller sangat diuntungkan dengan adanya maketplace besar tersebut Tokopedia dan Shopee namun mereka kok malah buntung. Kami menilai beberapa poin sebagai berikut:
  • Marketplace banyak menggaet member untuk menuju dominansi dan akhir-akhir akan Initial Public Offering (IPO) saham publik dan uang investor akan kembali lewat strategi tersebut seperti Bukalapak dan Tokopedia
  • Dengan tersisa sedikit marketplace, dimana saat ini hanya Tokopedia dan Shopee maka kebijakan untuk cari untung hampir sama antara keduanya dan ini berpotensi kartel
Referensi:
[1] Pengalaman pribadi penulis pada tema terkait. www.caesarvery.com

Kontaminan/Cleanliness di Oli Pelumas (Oil Tribology/Lubricating Contaminant) dan Standard Nilainya

Diposting oleh On Tuesday, October 11, 2022

Kontaminan (contaminant) adalah salah satu parameter yang terbaca pada oil analysis. Kontaminan ini bisa berupa lumpur, jelaga, varnish dan pengotor organik/anorganik. Keberadaan kontaminan ini mengurangi kualitas oli pelumas sehingga harus dilakukan minimalisir agar peralatan rotating dan instrumentasi berjalan lancar. Terdapat 3 standard pembacaan kontaminan (contaminant) oli pelumas yaitu:

  1. ISO 4406:99, termasuk standard pembacaan kontaminan yang baru dengan menggunakan 3 kategori yaitu >4 µm, >6 µm, >14 µm (4/6/14) per 1 mL sampel oil 
  2. NAS 1638, termasuk standard pembacaan kontaminan yang cukup lama. Rentang nilai NAS dari 00 s/d 12. Untuk pembahasan ISO 4406 dan NAS detail di: Analisa Oil Tribology
  3. MIL-STD 1246C, termasuk standard pembacaan kontaminan yang cukup lama. Berikut levelnya untuk standar ini:
Terdapat 4 metode pengujian sampel oil untuk parameter kontaminan/contaminant:
  • Optical Microscopy (ISO 4407)
Teknik ini menggunakan mikroskop dengan cara menghitung manual sehingga termasuk teknik kuno, lambat dan kurang praktis namun masih tetap dipakai karena kehandalan yang tidak dipengaruhi beberapa keterbatasan dari teknologi modern.
  • Automatic Particle Counting using Laser Light (ISO 11500)
Menggunakan 2 metode yaitu: (i) White light instrument (partikel melewati kapiler zona deteksi dan membentuk bayangan pada photocell detector kemudian penurunan voltase yang diproduksi oleh photocell secara langsung sebanding dengan ukuran bayangan); (ii) Laser (ketika laser ditembakkan ke oil maka partikel akan bertabrakan dan bintik-bintik cahaya dipantulkan ke photocell, perubahan voltase yang melewati photocell secara langsung sebanding dengan ukuran bayangan).kelemahan metode ini adalah air bubbles dan water content akan terbaca sebagai  kontaminan sehingga harus dilakukan pre-treatment sampel menggunakan ultrasonic bath, vacuum degassing atau solvent extraction. Sebagai solusi dari kekurangan ISO 11500 tersebut maka metode ASTM D7647-10 sebagai solusi
  • Automatic Particle Counting using Dillution Technique to Elliminate Contribution the Water dan Interfering Soft Particles by Light Extinction (ASTM D7647-10)
Metode ini menyempurnakan adanya gangguan pembacaan karena kehadiran air dan eliminate soft patikel yang kurang berdampak failure pada peralatan.
  • Pore Blockage Particle Counting (BS 3406)
Ini adalah metode paling umum yang digunakan sebagai automatic particle count. Pada metode ini oil sampel dilewatkan mesh screen/pore size umumnya 10 mikron. Metode ini menggunakan 2 instrument yaitu: (i) first instrument (mengukur pengurangan flow yang melewati membrane dan akan ter-blocking ketika pressure konstan (perangkap pertama adalah partikel >10 mikron dan selanjutnya partikel lebih kecil); (ii) second instrument (mengkur kenaikan differential pressure yang melewati screen ketika flow rate dijaga konstan)
Terdapat 4 jenis contamination pada oil seperti berikut: [EPRI, 2001]
  1. Internal conatmination/wear
  2. External contamination
  3. Water contamination
  4. By-product from chemical breakdown of lubricant
Terdapat beberapa metode untuk minimalisir contamination sebagai berikut:
  1. Centrifuging
  2. Vacuum dehydration
  3. Filtration
Terdapat beberapa macam membrane filter dan tingkat keefektifannya seperti berikut: [EPRI, 2001]
Kutip Artikel ini (Citation):
Feriyanto, Y.E.(2022). Kontaminan/Cleanliness di Oli Pelumas (Oil Tribology/Lubricating Contaminant dan Standard Nilainya. www.caesarvery.com

Referensi:
[1] EPRI. (2002). Lube Oil Predictive Maintenance, Handling, and Quality Assurance Guideline
[2] EPRI. (2001).  Maintaining Lube Oil System Cleanliness in Motor Bearing Application. California

Olympus, Feriyanto, Y.E

Diposting oleh On Friday, September 23, 2022

  • Klik kanan bawah ikon olympus-Configure-address 192.168.0.1 (muncul tulisan there is no problem)-Ikon olympus refresh-Configure-Cek apakah sudah OK (tanda Bootp & FTP warna hijau)
  • Klik tube ECT/RFT-Setup-Wizard-"The current configuration has been modified....-NO-Isi name (PLTU...)-Description (Condenser...)-Pilih technology (ECT...)-Create....(50:53)/(54:19)
  • Isi material, thickness....(Bobbin-Internal-4 pin)-Next (pilih frequency)-SS 404, 217, 108,22
  • Klik analysis setup-setting semua cacat di kalibrator, bisa tambahkan defect yang belum ada misalnya klik Add-(big hole-out (cara pilih double klik)-100%; OD groove-out-40)- NAMUN INI BELUM MENANDAI KALIBRATOR-OK
  • Kalau ada yang defect kalibrator banyak misalnya: 4x Flat Bottom Hole (FBH)
  • Klik Depth Curve-INI SETTING ABSOLUT (untuk big defect/cacat melingkar/melebar/luas-KODE BIG HOLE, OD/ID GR) dan DIFFERENTIAL (small defect/cacat per titik/pittng-KODE FLAT BOTTOM HOLE 20, 40, 60, 80, 100%)
  • Nilai yang sudah ada: A90, D90, MIX1 dengan keterangan theta/depth (untuk semuanya)-Bisa tambahkan depth curve, klik Add-tambah D180 (keterangan sama dengan existing, curve type theta/depth)-OK (JADI TAMPILAN NANTI DI KOTAK ADA 4 PEAK TSB)
  • Tambahkan lagi yang belum ada, klik add pilih A90 (keterangan berbeda dg existing, curve type V/depth dan extension V-OD)-OK (V=voltage)
  • A90 (absolute for big defect) ada 2 yaitu:
  1. A90 theta/depth dipilih/checklist OD GR 20%; OD GR 40%; OD GR 60%, ID GR 10% dan BIG HOLE 100%-YANG LAIN UNCHECKLIST
  2. A90 V/depth, V-OD hanya dipilih OD-GR saja semuanya-KARENA extension V-OD untuk OD saja
  • D180 theta/depth dipilih HOLE 100%; FBH 80%; FBH 60%; FBH 40% dan ID GR
  • D90 theta/depth dipilih mirip D180-SEMUA OD GR TIDAK DIPILIH namun ID GR dipilih
  • MIX1 (utk menghilangkan sinyal tube support shg yang ada hanya defect)-MIRIP D90
  • Langkah uji kalibrator: klik ikon timbangan (balance the unit)-klik start dan tarik maka sinyal akan tampil-klik stop (1:20:20)
  • Lakukan zoom sinyal dengan drag mouse
  • MENANDAI WALL LOSS & PEAK-klik simbol system callibration (dekat simbol timbangan)-menandai nilai defect, dimulai dengan mengarahkan peak sinusoidal big hole 100%-klik record dst....
  • Setiap manandai nilai-nilai voltage bisa diganti, semula 5 V arah panah menyamping diganti dengan 2.5 V & panah keatas (berlaku untk D90 & A90)- Setelah semus tertandai maka klik callibrate
  • Langkah analisa kurva, peak bentuk besar indikasi cacat melingkar (OD/ID groove, big hole), sedangkan peak kecil indikasi FBH & small hole
  • Ukuran peak bisa diperbesar (dengan memperkecil Voltage), begitu juga sebaliknya
  • Rata-rata pengukuran menggunakan voltage 2.5 V, dan ciri khas cacat besar misalnya OD/ID groove/big hole memiliki voltage >1 V sedangkan kalau kecil disekitaran 1 V
  • Buat folder terlebih dahulu (nantinya akan diambil di proses selanjutnya)
  • Klik Setup-Operation-Inspection-Browse ambil folder-Browse lagi tempatkan di folder dan beri nama-Browse lagi tempatkan di folder dan beri nama
  • (1:15:51) Klik Inspect
  • Memulai ambil data
  • Analisa, penggunaan D90 atau A90, ketika D90 dan V<1 maka memilih D90 atau D180 dipilih voltage yang terbesar) sedangkan ketika D90 dengan V>1 dan maximum rate (MR) <40 maka memilih A90 sedangkan jika D90 dengan V>1 dan mr >40 maka dipilih A90-OD




Macam-Macam Energy Recovery Devices (ERD) Turbocharger ERI SWRO BWRO Booster Pump Reverse Osmosis

Diposting oleh On Friday, September 02, 2022

Energy Recovery Devices (ERD) adalah peralatan yang memanfaatkan energi buang untuk membantu kinerja agar lebih efisien. ERD banyak diterapkan pada Reverse-Osmosis (RO) pump dengan memanfaatkan reject water (concentrate/brine) untuk membantu tekanan pada feed water. Latar belakang munculnya teknologi ERD karena biaya operasional terbesar RO adalah konsumsi energi sedangkan biaya ganti membrane, chemical dan upah buruh tergolong rendah. 

Berdasarkan Prinsipnya ERD dibagi menjadi 3 yaitu:

  • Hydraulic to Mechanical-Assisted Pumping (Generasi-1), prinsipnya menggunakan double energy conversion yaitu konversi-1 terjadi ketika energi hidrolis dari brine/concentrate RO terkonversi menjadi energi mekanik untuk memutar turbine shaft dan konversi-2 terjadi ketika energi mekanik dari shaft terkonversi ke energi hidrolis dari feed HP pump RO. Sistem ini yang paling tua dan dipertimbangkan masih belum efisien dan tidak signifikan mengurangi biaya operasional karena adanya losses selama perpindahan konversi energi tersebut. Contoh jenis teknologi yang menggunakan prinsip ini adalah Francis Turbine (FT) dan Pelton Wheel (PW)
  • Hydraulically Driven Pumping in Series (Generasi-2), prinsip ini menggunakan impeller HP pump dan impeller hidrolis turbine (turbocharger) yang ter-couple shaft didalam casing yang sama dan ditempatkan secara series. Teknologi ini adalah penyempurnaan dari generasi-1 namun juga masih belum sempurna dalam hal konversi energi dari hidrolis ke mekanis dan kemudian balik ke hidrolis. Contoh jenis teknologi yang menggunakan prinsip ini adalah Turbocharger
  • Hydraulically Driven Pumping in Parallel (Generasi-3), prinsipnya adalah energi hidrolis dari brine/concentrate RO bertemu dengan energi hidrolis dari feed tanpa terkoneversi ke energi mekanis (seperti generasi-1 dan 2). Teknologi ini membutuhkan pompa tambahan sebagai buffer separating feed dengan HP pump RO yang ditempatkan paralel dengan pompa tambahan tersebut yaitu booster pump. HP pump RO bekerja dibantu tekanan yang diberikan booster pump dari brine/concentrate sehingga konsumsi energi bisa menjadi turun. Teknologi ini memungkinkan tingkat kestabilan efisiensi recovery yang tinggi karena semakin tinggi flowrate brine/concentrate maka bisa menurunkan beban kerja HP pump RO. Prinsip kerja pompa tambahan adalah high speed sekitar 1500 rpm sehingga sangat kecil kontak antara feed dengan brine/concentrate sehingga kualitas feed masuk membrane tetap bisa terjaga. Contoh jenis teknologi yang menggunakan prinsip ini adalah Pressure Exchanger by Energy Recovery Inc. (ERI), Recuperator by Aqualyng Company  dan Dual Work Exchanger (DWEER)
Berikut peta perkembangan teknologi ERD:

Macam-Macam Energy Recovery Devices (ERD) yang digunakan pada Reverse-Osmosis (RO) pump adalah:

  • Francis Turbine (FT), merupakan jenis "hydraulic to mechanical-assisted pumping" dan merupakan teknologi ERD paling awal sejak penemuan RO. Teknologi ini sangat mudah dilakukan dan sangat sederhana yaitu energi kinetik dari brine/concentrate RO ter-couple dengan HP pump RO sehingga membentuk satu aliran.
  • Pelton Wheel (PW), merupakan jenis "hydraulic to mechanical-assisted pumping: dan teknologi ini adalah yang sangat baik dalam pengurangan biaya konsumsi energi karena low cost motor. Metode masih hampir sama dengan Francis Turbine dengan sedikit modifikasi penyempurnaan.
  • Turbocharger by Pump Engineering Inc. (PEI) dan Fluid Equipment Development Company (FEDCO) , merupakan tipe dari "hydraulically driven pumping in series" dengan kerja flow reject/brine/concentrate RO dihubungkan dengan centrifugal spinning impeller (hydraulic turbine) sehingga tekanan HP pump RO bertambah. Turbocharger device ini adalah paket peralatan dimana impeller HP pump dan impeller hydraulic turbine (Turbocharger) dalam satu shaft dengan blade hydraulic tuebone turbocharger mirip reverse running pump. HP pump RO dan hydraulic turbine turbocharger tidak direct langsung seperti Franchis Turbine dan Pelton Wheel. Salah satu kelebihan turbocharger dimana teknologi yang paling banyak dipakai saat ini karena low maintenance.
  • Recuperator by Aqualyng Company, termasuk tipe "hydraulically driven pump in parallel" dengan cara kerjanya membuat tekanan konstan pada flow feed. Terdapat 2 vertical stainless steel chamber (1 running & 1 stop) yang berfungsi sebagai compression-decompression sehingga tekanan yang akan disalurkan gabung sudah sama dengan output dari HP pump RO. Teknologi ini membutuhkan booster pump untuk mejaga tekanan drop selama melewati membrane. Teknologi ini munggunakan 3-way valve untuk mengontrol flow feed sebelum masuk membrane.
  • Dual Work Exchanger (DWEER), termasuk tipe "hydraulically driven pump in parallel" dengan prinsip 2 pressure vessel disusun paralel (1 running & 1 stop untuk mencegah gangguan flow dari reject/brine/concentrate RO). Tekanan dari reject RO ditransfer ke aliran feed melewati piston dan teknologi ini juga membutuhkan booster pump mirip teknologi Recuperator
  • Pressure Exchanger (PX) by Energy Recovery Inc. (ERI), merupakan jenis teknologi yang prinsipnya adalah "hydraulically driven pumping in parallel". Cara kerjanya energi hdrolis dari reject/brine/concentrate RO masuk PX devices dan karena direct pressurization maka tidak ada losses yang disebabkan oleh transformasi/konversi proses/energi (seperti generasi-1 dan 2 yang harus berubah dari energi hidrolis ke mekanis dan kembali lagi ke hidrolis). PX devices berisi ceramic cartridge dan alasan pemakaian ceramic karena keras, tahan korosi dan kestabilan dimensi oleh kondisi operasi. Teknologi PX by ERI juga memerlukan booster pump sehingga bisa isobaric (tekanan konstan).
Terdapat beberapa macam ERD dan masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan sehingga tidak bisa dibuat kesimpulan bahwa teknologi mana yang terbaik dan memberikan efisiensi yang lebih baik.
  • Teknologi yang bersifat isobaric (tekanan yang dihasilkan selalu konstan) karena device tambahannya bisa adjustable adalah: (i) Recuperator; (ii) DWEER; (iii) Pressure Exchanger by ERI
  • Teknologi Hydraulically Driven Pumping in Parallel (Generasi-3) seperti Recuperator, DWEER dan Pressure Exchanger by ERI muncul karena pertimbangan ketika energi terkonversi dari hidrolis ke mekanis kemudian balik lagi ke hidrolis akan menghasilkan loss energy sehingga seharusnya konversi energi cukup dari hidrolis ke hidrolis.
Kutip Artikel ini Sebagai Referensi (Citation):
Feriyanto, Y.E. (2022). Macam-Macam Energy Recovery Devices (ERD) pada Reverse Osmosis. www.caesarvery.com

Referensi:
[1] Guirguis, M.J. (2011). Energy Recovery Devices in Seawater Reverse Osmosis Desalination Plants with Emphasis on Efficiency and Economical Analysis of Isobaric Versus Centrifugal Devices. Univ. of South Florida

Performance Reverse Osmosis (RO)-SWRO-BWRO terhadap Kondisi Air Umpan (Kavitasi, Temperatur Tinggi, Gas Terlarut)

Diposting oleh On Wednesday, August 31, 2022

Reverse-Osmosis (RO) adalah salah satu desalination system yang menggunakan membrane semi-permeable dengan dibantu reverse dipaksa oleh high pressure pump. Di PLTU terdapat 2 RO yaitu: (i) sea water reverse osmosis (SWRO) yang berperan menurunkan conductivity air laut dari >35,000 µS/cm menjadi <1000 µS/cm dengan %recovery standard 25-30%; dan (ii) brackish water reverse osmosis (BWRO) yang merupakan tahap lanjutan after SWRO yang berperan menurunkan conductivity  sampai <20 µS/cm dengan %recovery standard 70-90%. Parameter RO sering naik-turun karena kondisi fluktuatif umpan air yang masuk, berikut faktor yang mempengaruhi performance RO: [Francis and Pashley, 2011] [Kang et al., 2007]

  • Temperatur umpan air yang masuk, meningkatnya temperatur air umpan maka meningkatkan permeate RO (produk yang diharapkan) 2-3% per kenaikan 1 oC (di range 20-30 oC)
  • Pre-heating umpan air yang masuk tidak disarankan karena bisa meningkatkan kavitasi sehingga terbentuk uap yang menghalangi polymer matrix pada skin layer membrane sehingga menurunkan permeate flow
  • Kavitasi pada RO juga bisa disebabkan karena keberadaan dissolved atmospheric gas di air umpan yang mempengaruhi kinerja high pressure pump RO
  • Tingginya differential pressure (DP) inlet-outlet RO membrane bisa menyebabkan kavitasi. Membrane RO yang  berisi hydrophobic sehingga keberadaan kavitasi (gas) bisa terlepas didalam porous matrix dari RO membrane sehingga pembentukan gas terlarut terhambat
  • Fouling yang disebabkan penumpukan mikroba menyebabkan blockage dan mengkorosi cellulose acetate
  • Oksidasi yang disebabkan tingginya free chlorine dan inilah alasan residual chlorine input membrane RO dijaga pada 0.1-0.5 mg/L (ppm) dan untuk membrane dari aromatic polyamide disyaratkan <0.1 mg/L karena keberadaan chlorine merusak ikatak hydrogen di membrane
Kutip Artikel ini Sebagai Referensi (Citation):
Feriyanto, Y.E. (2022). Performance Reverse Osmosis (RO)-SWRO-BWRO terhadap Kondisi Air Umpan (Kavitasi, Temperatur Tinggi, Gas Terlarut)www.caesarvery.com

Referensi:
[1] Francis, M.J., and Pasley, R.M. (2011). The Effects of Feed Water Temperature and Dissolved Gases on Permeate Flow Rate and Permeate Conductivity in a Pilot Scale Reverse Osmosis Desalination Unit. J. of Desalination and Water Treatment. Vol. 36, pp. 363-373
[2] Kang, G.D., Gao, C.J., Chen, W.D., Jie, X.M., Cao, Y.M and Yuan, Q. (2007). Study on Hypochlorite Degradation of Aromatic Polyamide Reverse-Osmosis Membrane. J. of Membrane Science. Vol. 300, pp. 165-171